Revolusi pendidikan di Indonesia adalah revolusi gaya belajar para siswa dan revolusi gaya mengajar oleh para guru. Sistem pendidikan tradisional sudah menunjukkan banyak kelemahan hampir dari semua aspek yang melingkupinya.
Baru-baru ini seorang professor pendidikan dari Harvard University, Howard Gardner, mengenalkan delapan jenis kecerdasan; kecerdasan linguistik, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan jasmani-kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.
Delapan jenis kecerdasan tersebut menghasilkan jawara-jawara di bidangnya masing-masing, sebut saja Goenawan Muhammad ataupun K.H. Abdullah Gymnastiar dengan kecerdasan linguistiknya, Albert Einstein ataupun pakar telematika Roy Suryo dengan kecerdasan logika-matematikanya, Affandi ataupun Basuki Abdullah dengan kecerdasan visual-spasialnya, Melly Goeslow ataupun Dhani Ahmad dengan kecerdasan musikalnya, Susi Susanti ataupun Dedy Mizwar dengan kecerdasan jasmani-kinestetiknya, Purdhi E. Chandra ataupun Andy F. Noya dengan kecerdasan interpersonalnya, Eleanor Rosevelt dengan kecerdasan intrapersonalnya, dan sebut juga Prof. Hembing dengan kecerdasan naturalisnya.
Tetapi ironisnya, segala perbedaan latar belakang dari jenis kecerdasan-kecerdasan yang cemerlang tersebut harus diukur dengan sebuah alat yang sama di bangku pendidikan kita, nilai matematis dan linguistis.
Seakan-akan para olahragawan, musisi, pelukis, ahli matematika, pemasar, orator, arsitek, penulis, akuntan, ahli hukum, politisi, ahli permata, juru masak, dokter dan programmer komputer yang berprestasi cemerlang semuanya punya bakat yang sama.
Manusia masing-masing memiliki rangkaian otak dan kemampuan yang berbeda-beda, preferensi yang tidak sama satu dengan lainnya, sehingga manusia juga akan menerima informasi, menyimpan pengetahuan, dan mengambilnya kembali dengan cara yang berbeda-beda, ringkasnya setiap manusia masing-masing memiliki gaya belajar dan memahami sesuatu secara berbeda.
Ketika preferensi gaya belajar yang berbeda-beda tersebut difasilitasi hanya dengan satu model kelas tradisional – anak harus duduk tegak dan diam, belajar hanya dengan mendengar dan membaca, dan anak dituntut memahami permasalahan dengan satu cara, yakni cara guru – yang tentu saja menyebabkan beberapa hal:
- memenjarakan tubuh dalam wilayah yang terbatas
- memenjarakan energi pada kegiatan yang terbatas
- membatasi stimulasi indra
- membatasi interaksi sosial
- membatasi pengalaman-pengalaman di kelas
- menomorduakan inisiatif atas hal-hal lainnya
maka bisa dipastikan akibat yang fatal terjadi pada pribadi anak, terutama yang memiliki preferensi gaya belajar berbeda, timbullah kecemasan, frustasi, kebosanan, ketegangan, dan penurunan motivasi anak.
“tidak ada yang lebih tidak adil dari perlakuan yang sama terhadap orang-orang yang berbeda”
Dr. K. Dunn
Maka mutlak revolusi gaya belajar diperlukan.
Revolusi gaya belajar tidak akan pernah terjadi jika tidak didukung dengan revolusi gaya mengajar oleh para guru.
“tidak mungkin akan ada inovasi penting dalam pendidikan apabila tidak berpusat pada sikap guru-gurunya, keyakinan, asumsi, perasaan para guru, semua itulah yang membentuk atmosfer dalam lingkungan belajar; yang menentukan kualitas pendidikan”
Postman dan Weingartner
“bukan anak yang harus memikul tanggung jawab dalam belajar, melainkan guru yang memikul tanggung jawab dalam mengidentifikasi kekuatan gaya belajar setiap anak, lalu mencocokkan semua itu dengan lingkungan dan pendekatan yang responsif”
Dr. Rita Dunn
Jika anda termasuk orang yang sepakat dengan perlunya revolusi pendidikan di Indonesia. Kirimkan tulisan anda, tuangkan ide-ide brilian anda tentang gaya baru pendidikan di forum ini. Sebarkan semua model pendidikan yang anda yakini mampu merevolusi sistem pendidikan di Indonesia melalui blog ini.
Kirimkan tulisan anda melalui email: akunafis@yahoo.com
Posted by mas bejo 
